/

Jumat, 13 Desember 2013

Andai Esok Tiada Lagi untuk Ku



Setiap kali bangun tidur dan membuka mata
Yang terucap adalah kalimah Syukur
Bahwa Allah masih mengizinkan kita kembali menatap fajar.
Merasai hembusan bayu pagi yang menyusup celah jendela,

dan menemui kembali apa yang kita semalam sebelum mata terpejam.
Semuanya masih seperti sediakala,
tidak ada yang berubah.

Kemudian melangkahlah dengan iringan doa di bibir
untuk meneruskan perjalanan kehidupan.
Dengan bimbingan-Nya-lah kita ini tidak melangkah
ke jalan yang salah.
Tak menjamah yang bukan hak, tak melihat yang dilarang,
tak menjamah yang tak halal, tak mendengar yang batil,
dan tak banyak melakukan sia-sia.
Karena setiap waktu yang dilewati pasti akan ditagih tanggungjawabnya.
Lantaran semua jalan yang dilalui akan diminta kesaksiannya
atas diri kita.
Dan, seluruh indera kita ini akan diminta berbicara tentang
apa-apa yang pernah tercipta.
Hari ini, masih ada yang terus lalai.

Masih ada juga lengah sehingga terus mencipta kesilapa.
Walau segunung kuliah pernah didengar,
mulut masih mengucap dusta,
telinga tetap tak mampu membendung irama-irama lalai,
dan masih saja ada perbuatan yang salah.
Sedangkan, paling kurang 5kali sehari lidah mengucap,
tangan ini itengadah,
dan mata menitikkan butir bening,
sekaligus memohon perlindungan dari Allah,
dijauhkan dari salah dan dosa.
Tetapi, masih juga langkah ini menuju arah yang sesat.

Setiap hari menangis,
setiap hari meminta keampunan,
tetapi setiap hari juga berbuat salah.
Hari ini mencipta dosa,
esok sibuk bersujud,
meluluhkan air mata,
menyusun kalimah doa,
menganyam permohonan semoga Allah menghapuskannya - Jangan bertangguh lagi.
Karena, entah sedetik kemudian kita ini tak lagi sempat memohon keampunan-Nya.
Lupakah kita bahwa waktu begitu cepat berlalu.
Lupakah kita bahwa menyesal di akhirat hanyalah kesia-siaan yang nyata?

Bagaimana jika hari esok tak pernah datang,
Padahal baru saja seharian ini kita berenang di lautan dosa,
belum sempat menghapus noda hari ini,kelmarin, sebulan yang lalu.
Bagaimana jika Allah tak berkenan membukakan mata kita
setelah sepanjang malam terlelap?
Bagaimana jika pertemuan dan keriangan bersama keluarga semalam adalah
yang terakhir kalinya buat kita.
Ketika esok harinya roh ini melihat seluruh keluarga menangisi jasad kita yang terbujur
kaku berselimut putih.

Bagaimana jika matahari esok terbit dari barat,
tak seperti biasanya dari timur?
Padahal hari ini kita langsung lupa menyebut nama-Nya.
Padahal hari ini, belum sempat mengunjungi satu persatu keluarga, kerabat
sahabat handai tolan, tetangga, dan orang-orang yang pernah tersakiti hatinya
oleh lidah dan tindakan kita.
Sudah terlalu lama tak mencium tangan orang tua mencari restu mereka,
walau tak terhitung salah diri.
Belum lagi sempat menderma, setelah derma kecil beberapa tahun lalu yang sering
kita banggakan.

Dan jika memang esok tak pernah datang,
sungguh malanglah diri kita ini,
benar-benar malang,
bila belum sempat mencuci dosa sepanjang hidup,
bila belum mendengar ungkapan maaf daripada orang-orang yang pernah kita zalimi,
bila belum sempat menyisihkan harta yang menjadi hak orang lain,
bila belum sempat meminta ampun atas segala salah dan silap yang tercipta.

Maka, saat pagi ini Allah masih mempeekenankan diri kita menikmati fajar,
mulakan hari dengan kalimah, "Terima kasih, wahai Maha Pemurah".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar